web widgets

HOME

Senin, 01 April 2013

SAMPAINYA AMALAN ORANG HIDUP KEPADA YANG MATI




SAMPAINYA  AMALAN ORANG HIDUP KEPADA YANG MATI
            قال تعالى : والذين جاءو من بعدهم يقولون  ربنا اغفرلنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين أمنوا ربنا إنك رؤف الرحيم
Artinya :Dan orang- orang dahulu yang datang sesudahnya mereka berkata:wahai tuhan kami ampunilah dosa-dosa kami dan orang-orang yang mendahului kami dengan keimanan dan jangan jadikan hati kami rasa dengki terhadap orang- orang yang beriman wahai tuhan kami sesungguhnya engkau maha menaruh kasih sayang.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله عز وجل ليرفع الدرجة للعبد الصالح في الجنة ،فيقول: يارب إن لي هذه؟ فيقول: بإستغفار ولدك لك. رواه أحمد
Artinya :Dari abu hurairah ra berkata bahwa rasulullah saw bersabda: sesungguhnya Allah swt menaikkan derajat hambanya yang soleh didalam surga , maka ia  berkata kepada Allah swt: wahai tuhanku  apakah ini untukku?(seakan-akan dia tidak beramal dengan amalan yang bias meninggikan derajatnya dalam surga) maka dijawab oleh Allah swt: itu disebabkan doa, dari anakmu untuk kamu.
عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ماالميت في القبر إلا كالغريق المتغوث ينتظر دعوة تلحقه من أب أو أم أو أخ أو صديق فإذا لحقته كان أحب إليه من الدنيا وما فيها وإن الله تعالى ليدخل على أهل القبور من دعاء أهل الأرض أمثال الجبال وإن هدية الأحياء إلى الأموات الإستغفار لهم. رواه البيهقي
Artinya: Dari Abdullah bin Abbas ra berkata bahwa rasulullah saw bersabda:tiada bagi seorang mait didalam kubur itu kecuali seperti orang yang tenggelam yang meminta pertolongan, dia menunggu kedatangan doa, bapaknya atau ibunya atau saudaranya  atau kawan- kawannya maka apabila datang doa,- doa, mereka itu lebih dia cintai daripada dunia serta  isinya, dan sungguh Allah swt masukkan doa, -doa,  penduduk bumi  itu kedalam kubur mereka itu seperti gunung , dan hadiah orang hidup kepada orang yang mati itu adalah doa, pengampunan pada mereka.   
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن مما يلحق المؤمن من عمله وحسناته بعد موته علما علمه ونشره وولدا صالحا تركه ، أو مصحفا ورثه ، أو مسجدا بناه أو بيتا لإبن السبيل بناه ، أو نهرا أجره ، أو صدقة أخرجها من ماله في صحته وحياته تلحقه بعد موته. رواه ابن ماجه
Artinya :Dari abu hurairah ra berkata bahwa rasulullah saw bersabda:sesungguhnya amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya sesudah matinya  yaitu:1) ilmu yang dia ajarkan dan dia sebarkan (2)meninggalkan anak yang soleh ,(3)Al qur,an yang dia wariskan untuk dibaca(4)mesjid yang dia bangun(5)rumah untuk orang yang musafir(6)sungai yag dia kalirkan(7) sodakah yang dia keluarkan ketika sehat dan hidupnya maka semuanya itu akan menjumpainya sesudah matinya. 
 عن أنس رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: مامن أهل ميت يموت منهم ميت فتصدقون عنه بعد موته إلا أهداها له جبريل على طبق من نور ثم يقف على شفير القبر فيقول:ياصاحب القبر العميق هذه هدية أهداها إليك أهلك فاقبلها فتدخل عليه فيفرح بها ويستبشر ويحزن جيرانه الذي لايهدى إليهم شيئ.
Dari saidina Anas ra berkata bahwa dia mendengar rasulullah saw bersabda:tiada dari keluarga si mait yang bersodakah mereka kepadanya sesudah matinya keculi akan menghadiahkan oleh malaikat  jibril As berupa satu talam dari cahaya kemudian berhenti disisi kuburnya dan berkata: wahai penghuni kubur yang dalam, ini adalah hadiah yang dikirimkan oleh keluarga engkau maka terimalah ini , maka senanglah dia dan sedihlah jirannya yang tidak mendapatkan hadiah  apa-apa. 
Ayat Al qur,an dan hadist- hadist diatas sangatlah cukup untuk menjadi dalil pegangan kita untuk perisai dari serangan musuh yang tidak senang dan sependapat  dan selalu mencari –cari kekurangan amalan-amalan yang sudah menjadi tradisi yang diwariskan oleh ulama-ulama kita dahulu seperti acara yang diselanggarakan oleh ahli mait dari 3 hari setelah meninggalnya sampai haulnya
Dalam setiap acara itu pasti terkandung bacaan-bacaan seperti Al qur,an atau tahlilan atau solawat  kemudian diakhiri dengan doa, untuk  meminta ampunan atas  mait yang sudah dialam kubur , dimana kira-kira yang tidak baiknya dalam acara itu ? sedangkan kita disuruh oleh Allah swt  untuk  mendoakan kebaikan sesama muslim yang masih hidup atau yang sudah meninggal seperti firman Allah dalam Al qur,an:
: والذين جاءو من بعدهم يقولون  ربنا اغفرلنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين أمنوا ربنا إنك رؤف الرحيم.
Artinya :Dan orang- orang dahulu yang datang sesudahnya mereka berkata:wahai tuhan kami ampunilah dosa-dosa kami dan orang-orang yang mendahului kami dengan keimanan dan jangan jadikan hati kami rasa dengki terhadap orang- orang yang beriman wahai tuhan kami sesungguhnya engkau maha menaruh kasih sayang.
            Al imam al hafiz syamsuddin al hambali mengatakan bahwa  Al imam syekh izzuddin bin abdussalam pernah berfatwa bahwa amalan orang yang masih hidup tidak akan sampai pahalanya kepada orang yang sudah mati  kemudian setelah beliau meninggal dunia murid- muridnya banyak melihatnya dalam mimpi dan bertanya: wahai tuan syekh bagaimana keeadaan mu sekarang  setelah engkau berfatwa tentang tidak sampai amalan orang yang hidup kepada yang sudah mati ? beliau menjawab: itu adalah fatwaku waktu dalam dunia sekarang aku rujuk  kembali pendapatku itu setelah aku mendapat  karunia  daari Allah swt dan pahala orang yang hidup itu memang sampai kepadaku.
            Al imam Ahmad bin hambal berkata: Apabila kamu masuk jiarah kubur  maka bacalah surah fatihah dan al falak dan annas dan al ikhlas dan jadikan pahalanya kepada ahli kubur kerena itu pasti sampai pahalanya.
وقد ذكر عن جماعة من السلف أنهم أوصوا أن يقرأ عند قبورهم وقت الدفن وقال الشيخ عبد الحق يروى أن عبد الله بن عمر أمر أن يقرأ عند قبره سورة البقرة
Dan sungguh disebutkan dari jamaah  ulama salafu ssoleh bahwa mereka mewasiatkan untuk dibacakan surah Al baqarah disisi kubur mereka ketika dimakamkan.
Dan berkata syekh  Abdul haq :diriwayatkan bahwa saidina Abdullah bin Umar menyuruh  untuk dibacakan surah Al baqarah  disisi kuburnya.
              Didalam kitab Daqa ikul akhbar  disebutkan bahwa saidina Abi Qilabah ra pernah bermimpi seakan-akan  kuburan terbongkar dan mayat–mayatnya keluar dan duduk disisi kubur masing- masing, beliau melihat bahwa dihadapan  mayit-mayit itu ada talam yang berisi nur (cahaya) dan terlihat  ada seorang  laki-laki yang tidak ada nur dihadapannya, dan beliau dekati orang itu sambil bertanya: kenapa aku tidak melihat ada nur dihadapanmu seperti jiranmu? Maka laki- laki itu menjawab: mereka itu ada anak yang soleh dan keluarga  atau kawan yang mengirimkan hadiah  sodakah kepada mereka sedangkan aku juga ada mempunyai seorang anak tapi dia tidak mendoakan aku  dan tidak bersodakah untuk aku oleh karena itu tidak ada nur dihadapanku dan aku malu dengan jiranku.
Manakala beliau terbangun dari tidurnya langsung beliau cari anak yang tidak mendoakan orang tua tadi dan beliau sampaikan apa yang beliau lihat didalam mimpinya , maka anak itu menangis dan menyesal atas perbuatannya  serta banyak berbuat taat kepada Allah swt dan banyak bersodakah untuk orang tuanya. kemudian setelah beberapa masa  saidina abu qilabah bermimpi lagi seperti semula dan beliau melihat semua mait itu  ada nur tetapi  yang paling terang diantara  mereka adalah nurnya laki-laki tadi dan dia berterima kasih kepada abi qilabah.
            Didalam kitab Arroh disebutkan  bahwa oraang yang meninggal itu mengetahui dan melihat semua perbuatan keluarganya yang masih hidup maka apabila mereka melihat yang amal baik dari keluarganya mereka sangat senang dan gembira tetapi kalau melihat yang sebaliknnya mereka sedih dan berdoa’: ya Allah kembalikan perbuatannya kepadanya.  

PARA SAHABAT MENGAMBIL BERKAT RASUL SAW DAN APA YANG DIMAKSUD BID’AH YANG SESAT



*روي ابو يعلى عن خالد بن الوالد قال: اعتمرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فى عمرة اعتمرها فحلق شعره فاستبق الناس الى شعره فاستبقت إلى الناصبة فأخذتها فاتخذت منها فلنسوة   فجعلتها فى مقدم القلنسوة فما وجهتها فى وجه إلا فتح علي                        
*قال الحافظ فى مطالب العاليه: الحديث صحيح وقال الهيشمى فى مجمع الزوائد: رواه الطبرانى وابو يعلى بنحوه ورجالهما الصحيح وقال البوصيرى رواه ابو يعلى باسناد صحيح                      
            Telah meriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Khalid bin Walid ia berkata kami umrah bersama rasulullah saw maka rasulullah saw mencukur rambutnya, maka para sahabatpun berlomba-lomba mengambil rambut rasulullah saw maka aku yang pertama mengambil rambut bumbunan rasul dan aku jadikan rambut itu didepan peciku. Maka tidak aku hadapkan peci itu kesuatu arah kecuali aku dimenangkan.
            Al Imam Alhafiz Ibnu Hajar dalam kitab Mathalibul Aliah berkata: bahwa hadis ini shahih . Dan Imam Alhaisami dalam kitab Majmauz Zawaid mengatakan:hadist ini diriwayatkan oleh imam Thabrani dan Abu Ya’la dan perawi keduanya itu shahih. Dan imam Busiri berkata: hadist itu diriwayatkan oleh Abu Ya’la dengan sanad yang shahih.
*عن عون بن ابى جحيفة عن أبيه:رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فى قبة حمراء ورأيت بلالا أخرج وضوءا فرأيت الناس يبتدرون ذلك الوضوء فمن أصاب منه شيئا تمسح به ومن لم يصب منها أخذ من بلل صاحبه   (رواه مسلم)
*وفى النسائى عن أبى جحيفة عن أبيه شهدت النبى صلى الله عليه وسلم بالبطحاء وأتى بلال فضل وضوئه فابتدره الناس فنلت منه شيئا (رواه مسلم)
            Dari Aun bin Abi Zuhaifah ra dari ayahnya: bahwa aku melihat rasulullah saw di kubah Hamra dan aku melihat saidina bilal mengaluarkan tempat wudhu rasulullah saw. Maka aku lihat para sahabat bergegas mengambil sisa air wudhu rasul. Barangsiapa mendapatkan sisa air wudhu itu maka mereka sapukan pada tubuh mereka dan siapa yang tidak dpat air itu maka dia mengambil percikan dari sahabatnya.
            Dan dalam Sunan Annasai dari Abu Huzaifah dari ayahnya aku menyaksikan nabi sawdi Batha(nama tempat) maka beliau mendatangkan sisa air wudhu rasul maka para sahabat bergegas mengamblnya dan aku mendapatkannya sedikit dari air itu.
عن أنس رضى الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا صلى الغداة جاء خدم المدينة بأنيتهم فيها الماء فما يؤتى بإناء إلا وغمس يده فيها فربما جاؤوا فى الغداة الباردة فيغمس يده فيها   (رواه مسلم) 
            Dari Anas ra berkata: rasulullah saw apabila shalat shubuh maka datanglah pelayan-palayan kota Madinah membawa wadah yang berisi air. Maka tidaklah mereka datangkan dengan nabi saw melainkan rasul menyalamkan tangannya disitu dan terkadang mereka datang dipagi yang dingin maka rasul celupkan tangan diwadah mereka itu (HR. Muslim)
عن أنس بن مالك رضى الله عنه قال: كان النبى صلى الله عليه وسلم يدخل بيت أم سليم فينام على فراشها فأوتيت فقيل لها : هذا النبى صلى الله عليه وسلم نائم فى بيتك على فراشك قال فجائت وقد عرق واستنقع عرقه على قطعة أديم على الفراش ففتحت عتيدتها فجعلت تنشف ذلك العرف فتعصره فى قواريرها ففزع النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ما تضعين يا أم سليم؟ قالت :يارسول الله نرجو بركته لصبياننا قال أصبت     (رواه مسلم)
            Dari Anas bin Malik ra berkata: Nabi saw pernah berkunjung kerumah Ummi Sulaim(ibunya Anas bin Malik) maka rasulullah saw tertidur diranjangnya, maka datanglah Ummi Sulaim, dikatakan orang bahwa nabi saw sedang tidur di rumahmu. Anas ra berkata manakala Ummu Sulaim masuk rumah beliau melihat rasul tidur keringatan yang menetes disepotong kulit diranjangnya, maka beliau buka tempat simpanannya dan beliau letakkan handuk untuk menyerap keringat nabi itu lalu beliau peras kedalam botol maka rasul terkejut melihat hal itu dan bersabda: Apa yang engkau lakukan wahai Ummu Sulaim? Beliau menjawab: ya rasulullah kami mengharap berkatnya untuk anak-anak kami. Rasul bersabda: engkau benar
عن يزيد بن الأسود رضى الله عنه فى حد يث حجة الوداع قال فلما صلى الصبح انحرف جالسا فاستقبل الناس بوجهه وذكر قصة الرجلين اللذين لم يصليا قال ونهض الناس الى رسول الله ونهضت معهم وأنا يومئذ أشب الرجال وأجلدهم قال فما زلت أزحم الناس حتى وصلت الى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخذت بيده فوضعتها إما على وجهى أو صدري. قال: فما وجدت شيئا أطيب ولا أبرد من يد رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال: وهو يومئذ بمسجد الخيف وفى رواية ثم ثار الناس يأخذون بيده ويمسحون بها وجوههم (رواه احمد كما فى المنتقى). وفى رواية عن جحيفه مثله إلا أنه قال بالبطحاء صلى الظهر أو العصر.
 وقال اخرجه احمد والبخارى مختصرا ومطولا فى مواضع من كتابه                                                                                                                
            Dari Yazid bin Aswad ra pada hadist masalah haji wada’: mana kala rasul shalata shubuh  beliau berpaling menghadap manusia dengan mukanya dan menyebutkan cerita 2 orang yang tidak shalat. Yazid berkata: maka bangkitlah manusia ketika itu menuju rasulullah saw dan akupun bangkit pula menuju rasul bersama mereka, sedangkan ketika itu aku masih muda dan terkuat dari mereka maka akupun terus berjajal menerobos manusia sampai akhirnya dihadapan rasulullah saw, maka aku letakkan tangan beliau dan aku letakkan dimukaku atau didadaku, maka belum pernah aku temukan tangan yang seharum dan sedingin tangan rasulullah saw dan rasul ketika itu sedang shalat di mesjid Khif(di Mina). Dan dalam riwayat lain disebutkan: kemudian para sahabat melompat mengambil tangan rasul(merebutkan tangan rasul dengan tangannya dan mereka sapukan pada muka mereka).
            Riwayat dari Zuhaifah ra seperti hadist diatas juga kecuali ada perbedaan ini ia berkata: Rasul shalat zhuhur atau ashar di Batha(nama tempat). Hadist ini di keluarkan oleh imam Ahmad dan imam Bukhari dengan ringkas dan adapula yang panjang didalam kitabnya
            Syekh Abdullah Mahfuz Muhammad Alhaddad dalam kitabnya Assunnah Wal Bid’ah berkata : hadist-hadist ini rasulullah saw setuju bagi orang yang menyapu tangan dan badan beliau untuk mengambil berkat, dan pada hadist ini pula dalil pantas dan layaknya bersalaman sesudah shalat shubuh dan ashar karena rasul ikrar saja dengan perbuatan mereka sebagaimana pada hadist Yajid bin Aswad dan bersalaman sesudah ashar pada hadist Zuhaifah ra, tapi tidak masalah dalam keraguan apakah zhuhur atau ashar karena biasanya waktu musafir dan haji itu dikumpulkan keduanya dari perbuatan nabi saw.
            Said Muhammad bin Alawi Almaliki dalam kitabnya Mafahim Yajibu Antusahhah mengatakan: banyak manusia yang salah dalam memahami hakikat tabarruk(mengambil barakat) dengan nabi saw dan bekasnya dan keluarga nabi dan pewaris-pewaris nabi dan para ulama dan aulia. Maka mereka menyebutkan tiap-tiap orang yang berjalan pada ini jalan berarti ia syirik dan seat bagaimana kebiasaan mereka itu terhadap perkara-perkara baru yang sempit wawasan dan pendek pikiran mereka.
            Dan sebelum kami menjelaskan dalil-dalil dan penyaksian yang bertutur dengan bolehnya yang demikian itu bahkan syariatnya maka sepantasnya kita mengetahui bahwa arti tabarruk bukanlah dia kecuali hanya tawassul(perantara) kepada Allah SWT sama adalah mengambil berkat dengan kesannya,orangnya, maupun tempatnya.                                    
  Imam Abdul Wahab Assya’rani dalam Tanbihul Muqtarrin berkata:
*قد بلغنا أن الإمام الشافعى رضى الله عنه لما ارسل قاصدها الإمام أحمد بن حنبل بأنه سيقع فى محنة عظيمة ويخلص منها سالما يعنى مسالة هل القران مخلوق او غير مخلوق. فلما أخبره القاصد نزع الامام أحمد له قميصه سرورا بقدوم رسول الشافعى فلما رجع الرسول بالقميص وأخبر الشافعى به قال له: هل كان هذا القميص على جسده من غير حائل قال نعم قال فقبله الامام الشافعى ووضعه على عينيه ثم صب عليه الماء فى اناء وعركه فيه ثم عصره ووضع غسالته عنده فى قارورة فكان كل من مرض من اصحابه يرسل له شيئا من تلك الغسا لة فاذا مسح به جسده عوفى من مرضه لوقته        
* وقال الشيخ على محفوظ فى كتاب الابداع فى مضار الابتداع وقد صح عن الربيع بن سليمان أن الإمام الشافعى رضى الله عنه كان يتبرك بغسالة ثوب الامام أحمد رحمه الله كما ذكره صاحب الطبقات الكبرى فى قصة طويلة                                          
                                                                          
            Sungguh sampai kepada kami bahwasanya imam Syafi’I manakala beliau mengutus utusannya kepada imam Ahmad bin Hambal bahwa nanti beliau akan mendapatkan ujian yang besar dan keluar dengan selamat(masalah apakah al qur’an itu makhluk apa bukan) manakala utusan itu sampai pada imam Ahmad dan memneri kabar gembira itu imam Ahmad pun langsung melepaskan pakaiannya karena sangat senangnya dengan kedatangan utusan imam Syafi’i. manakala kembali utusan itu membawa baju gamis imam Ahmad maka imam Syafi’I bertanya: apakah gamis ini yang ia pakai langsung dibadannya tanpa lapisan lain? Utusan itu menjawab: ya. Kemudian imam Syafi’I menciumnya dan meletakkannya dimatanya, kemudian beliau tuangi air diwadah yang ada gamis imam Ahmad itu dan beliau aduk dan beliau peras airnya dan beliau letakkan air perahan itu kedalam botol. Maka apabila ada teman-teman beliau yang sakit beliau suruh sapukan air itu ketubuhnya maka sembuhlah ia dari sakitnya saat itu juga.
 Dan syekh Ali Mahfuz dalam kitab Al Ibda’ Fii Mudharil Ibtida’mengatakan: sungguh shah riwayat dari Rabi bin Sulaiman bahwa imam Syafi’I pernah mengambil barakat dengan air baju imam Ahmad sebagaimana menyebutkan pengarang kitab Thabaqatul Qubra dalam kisah yang panjang.
            Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail Al Bukhari dalam kitab shahihnya menulis hadist yang panjang sampai kepada:

ثم عن عروة جعل يرمق أصحاب النبى صلى الله عليه وسلم بعينيه قال فو الله ما تختم رسول الله صلى الله عليه وسلم نخامة إلا وقعت فى كف رجل منهم فذلك بها وجهه وجلده. وإذا أمرهم ابتدروا أمره وإذا توضاء كادوا يقتتلون على وضوئه وإذا تكلم حفضوا أصواتهم  عنده وما يحدون اليه النظر تعظيما له فرجع عروة الى أصحابه فقال: اي قوم و الله لقد وفدت على الملوك ووفدت على فيصر و كسرى والنجاشي والله ان رأيت ملكا قط يعظمه أصحابه ما يعظم أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم محمدا والله ان تنخم نخامة الا وقعت فى كف رجل منهم فذلك بها وجهه وجلده واذا أمرهم ابتدروا امره واذا توضاء كادوا يقتتلون على وضوئه وإذا تكلم خفضوا اصواتهم عنده وما يحدون اليه النظر تعظيما ( رواه البخارى فى كتاب الشروط)     
          
Kemudian saidina Urwah bin Mas’ud melihat dengan kedua matanya bagaimana sahabat-sahabat nabi itu, beliau berkata:Demi Allah tidaklah rasulullah saw mengeluarkan kahak kecuali kahak itu jatuh pada telapak tangan salah seorang dari mereka maka mereka gosokkan kahak itu kemukanya dan tubuhnya dan apabila rasulullah saw menyuruh mereka dengan spontan mereka kerjakan perintahnya dan apabila beliau berwudhu maka hampir-hampir mereka berkelahi merebutkan air wudhunya dan apabila beliau berbicara maka mereka merendahkan suara disisinya, dan mereka tidak ada yang menajamkan pandangan kepadanya karena membesarkan atasnya maka Saidina Urwah pun pulang menemui teman-temannya dan bercerita: ada suatu kaum, demi Allah aku telah menemui beberapa orang raja dan aku ketemu dengan raja kaisar(Romawi) dan raja Kisra(Persia) dan raja Najasi. Demi Allah aku tidak pernah melihat satu orang rajapun yang dibesarkan oleh sahabatnya sebagaimana para sahabat Muhammad memuliakan Muhammad. Demi Allah jikalau beliau mengeluarkan kahak maka akan jatuh ketangan salah seorang dari mereka, maka mereka gosokkan kemuka dan kebadan. Dan apabila beliau memerintahkan sesuatu maka dengan secepatnya mereka laksanakan perintahnya dan apabila beliau berwudhu maka hampir-hampir sahabatnya berkelahi merebutkan air wudhunya.
 Dan apabila beliau berbicara maka para sahabatnya akan merendahkan suaranya dan tidak ada yang mengekali pandangan kepadanya karena membesarkan atas beliau.
وزاد ابن اسحاق: ولا يسقط من شعره شئ إلا أخذوه
            Dan Imam Ibnu Ishaq menambahkan: dan tidak jatuh sedikitpun dari rambutnya kecuali mereka mengambilnya.
قال ابن حجر العسفلانى فى فتح البارى: وفيه طهارة النخامة والشعر المنفصل  والتبرك بفضلات الصالحين الطاهرة ولعل الصحابة فعلو ذلك بحضرة عروة وبالغوا فى ذلك اشارة منهم الى الرد على ما حشيه من فرارهم وكانهم قالو بلسان الحال : من يحب امامة هذه المحبة ويعظمه هذا التعظيم كيف يظن به انه يفر عنه  ويسلمه لعدوه؟ بل هم أشد اعتباطا به وبدينه  وبنصره من القبائل التى تراعى بعضها بعضا بمجرد الرحم فيستفاد منه جواز التوصل الى المقصود بكل طريق سائغ
(جزء 5- ص 385)
            Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari mengatakan: pada hadist ini menunjukkan sucinya kahak dan rambut nabi yang terpisah  atau terlepas dan bolehnya bertabarruk dengan benda yang keluar dari tubuh seperti ludah dan keringat orang-orang yang suci. Dan barangkali para sahabat melakukan ini dihadapan saidina Urwah dan mereka berlebihan melakukannya itu sebagai isyarat dan membantah atas dikhawatirkan mereka lari daripada nabi saw.
            Seakan-akan lisanul hal mereka mengatakan: siapa yang mencintai imamnya dengan kecintaan seperti ini dan penghormatan ini bagaimana disangka dia lari daripadanya dan menyerahkan pada musuhnya bahkan mereka lebih cemburu dengannya dan dengan agamanya dan dengan menolongnya daripada kabilah yang menjaganya sebagian daripada sebagian dengan semata-mata ikatan rahim(keluarga).
Maka dapat diambil hukum dari hadist ini bahwa boleh menghubungkan kepada suatu tujuan dengan tiap-tiap jalan yang di bolehkan.
            Hadist-hadist yang diatas itu menunjukkan pula bahwa inisiatif para sahabat yang direstui oleh rasulullah walaupun beliau tidak menyuruh dan menganjurkannya.
 Berarti tidak semua perbuatan yang tidak dilakukan rasul itu bid’ah karena selain hadist-hadist diatas banyak lagi hadist-hadist yang menyatakan perbuatan para sahabatyang tidak ada perintah maupun anjuran rasul untuk mengerjakan hal itu dan rasul setuju saja selama hal itu masih dalam naungan syari’at dan tidak bertentangan dengan nas Al qur’an dan hadist.
 Imam Abdullah bin Ahmad bin Hambal bercerita tentang apa yang beliau lihat pada ayahnya, beliau berkata:
رأيت أبى يكتب التعاويذ للذي يصرع وللحمى لأهله وقراباته ويكتب للمراة إذا عسر الولادة فى جام أو شئ نظيف ويكتب حد يث ابن عباس إلا انه كان يفعل ذلك وقوع البلاء ورأيته يعوذ فى الماء ويشربه المريض وينصب على رأسه منه ورأيت أبى يأخذ شعرة من شعرة النبى صلى الله عليه وسلم فيضعها على فيه ويقبلها وأحسب أنى قد رأيته يضعها على رأسه أو عينه فغمسها فى الماء ثم شربه يشتشفى به ورأيته قد أخذ قصعة النبى صلى اللة عليه وسلم بعث بها اليه أبو يعقوب بن سليمان بن جعفر فغسلها فى جب الماء ثم شرب فيها ورأيته غير مرة يشرب من ماء زمزم يشتشفى به ويمسح به يديه ووجهه  "كذا فى كتاب المقالات السنيه فى كشف ضلالات أحمد بن تيمية للشيخ عبد الله الهررى"                                                     
            Aku melihat ayahku menulis Taauz(اعوذبالله) bagi orang yang kesurupan dan bagi orang yang sakit panas dari keluarga dan kerabatnya dan ia menulis pula bagi perempuan yang sulit melahirkan pada air yang terkumpul atau pada sesuatu yang bersih dan ia juga menulis hadist Ibnu Abbas, beliau tidak mengerjakan hal itu kecuali ketika terjadi bala dan aku tidak pernah melihat beliau mengerjakan ketika sebelum bala dan aku lihat pula ia bertaauz   pada air dan diminumkan pada orang yang sakit dan dituangkan pada kepalanya dan aku lihat pula ayahku mengambil rambut rasulullah saw maka beliau letakkan di mulut dan beliau cium dan aku mengira beliau meletakkan dikepala atau dimatanya, maka beliau menyalamkan kedalam air kemudian beliau minum untuk kesembuhan dan aku lihat beliau mengambil talam yang dikirim oleh Abu Ya’kub bin Sulaiman bin Ja’far maka beliau basuh pada pengi yang berisi air kemudian beliau minum padanya dan aku lihat beberapa kali beliau minum air zamzam untuk kesembuhan, beliau sapukan pada tangan dan muka. (demikian disebutkan dalam kitab Almaqalatussuniah Fi Kasyfi Dhalalati Ibnu Taimiah karangan syekh Abdullah Al Harary, hal: 418)
            Demikianlah ulama-ulama kita bertabaruk dengan bermacam-macam bentuk’ apakah mereka tidak tahu hukum? Tentu tidak, bahkan mereka lebih alim dan mengerti daripada orang-orang yang senang menyalahkan dan membid,ahkan dengan sebutan yang jelek pada ulama-ulama kita dahulu.
            Para ulama kita punya kaidah
إن ما يحدث يجب أن يعرض على قواعد الشريعة ونصوصها فما شهدت له الشريعة بالحسن فهو حسن مقبول وما شهدت له الشريعة بالمخالفة والقبح فهو المردود وهو البدعة المذمومة
(السنة والبدعة)                                                    
            Bahwasanya tiap-tiap sesuatu perkara baru maka wajib ditimbang dengan qaidah syariat dalil-dalilnya maka apabila dipandang dari segi syariat itu bagus maka berarti bagus pula dan diterima dan apabila dipandang oleh syariat bahwa itu menyalahinya dan jelek perbuatannya maka berarti perkara itu ditolak oleh syariat itulah yang dinamakan bid’ah tercela.
            Maka para ulama menamakan yang pertama itu bid’ah hasanah sebab dia tidak menyalahi kaidah syari’at.
             Sebagian orang mengatakan: sesungguhnya rasul dan sahabatnya tidak pernah melakukannya, lalu apa jawaban kita pada mereka? Apakah hujjah itu Cuma terbatas dalam perbuatan rasul saja? Apakah kalian tidak mendengar hadist bukhari dan muslim dari saidatuna Aisyah ra.
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان ليدع العمل وهو يحب أن يعمل به الناس فيفرض عليهم 
            Sesungguhnya rasulullah saw terkadang meninggalkan suatu perbuatan padahal beliau suka mengerjakannya tapi beliau khawair kalau manusia ikut mengerjakannya maka dipardukan atas mereka.
            Rasulullah tidak mau memberatkan umatnya dengan sesuatu perbuatan yang mana padahal beliau suka dan mampu mengerjakannya.
 Lain halnya perbuatan itu menyalahi syariat dan membawa kepada kerusakan atau kemudharatan dirinya seperti hadist riwayat Abu Daud Attayalisi
عن عسعس بن سلا مة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم فقد رجلا من أصحابه فأرسل في طلبه فأوتي به فقال: إني أردت ان أخلو لعبادة ربي فأعتزل  النساء فقال النبي صلى الله عليه وسلم: فلا تفعله ولا يفعله أحدا منكم" قالها ثلاثا" فلصبر ساعة فى بعض مواطن المسلمين خير من عبادة أربعين عاما (قال البو صيري :رواته ثقات)                              
            Dari As as bin Salamah ra: bahwasanya rasulullah saw kehilangan salah seorang sahabatnya dan beliau mengirim seseorang untuk mencarinya maka setelah ketemu, dia berkata: aku ingin menyendiri untuk beribadah pada tuhanku maka aku tinggalkan istriku. Maka rasulullah bersabda: jangan engkau lakukan dan janganlah diantara kalian melakukannya(tiga kali rasul mengatakan ini) maka bersabar sesaat ditengah-tengah orang muslim itu lebih baik daripada beribadah 40 tahun. Imam Bushiri berkata bahwa perawinya terpercaya.
Dalam hadist ini rasul melarang dan tidak setuju terhadap inisiatif baru sahabat yang mau menyendiri dalam beribadah karena itu bertentangan dengan hadist masalah kelebihan hidup bermasyarakat seperti hadist yang disebut rasulullah saw diakhir itu.
Hadist ini juga menunjukkan sifat mulia rasulullah saw yang perhatian sekali dengan para sahabtnya kalau tidak hadir dimajelis ataupun diacara lainnya, dan hadist ini juga menunjukkan bahwa para sahabat dulu sangat mementingkan ibadah daripada masalah lain sampai istrinyapun ditinggalkannya takut kalau mengganggu ibadahnya.
روي البخارى عن ابن عباس رضى الله عنهما قال بينما النبى صلى الله عليه وسلم يخطب اذا هو برجل قائم فسأل  عنه فقالوا: أبو اسرائيل نذر أن يقوم فى الشمس ولا يقعد ولا يستظل ولا يتكلم ويصوم فقال النبى صلى الله عليه وسلم مروه فليتكلم وليستظل وليقعد وليتم صومه         
Imam bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, dia berkata bahwa ketika nabi berkhutbah tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri, maka rasul bertanya siapa dia, mereka menjawab bahwa itu adalah Abu Israil yang bernajar berdiri diterik matahari dan tidak akn duduk serta tidak akan bernaung dan tidak akan berbicara dan juga berpuasa. Maka sabda rasulullah saw bahwa suruhlah dia bicara dan bernaung serta hendaklah sempurnakan puasanya.
Maksud hadist ini bahwasanya rasulullah saw menerima dari Abu Israil suatu ibadah yang sesuai syariat yaitu puasa dan menolak yang tidak sesuai syari’at dari menyakiti diri dengan mengekali berdiri dan tidak bernaung serta sampai tidak mau bicara itu semua adalah kebiasaan jaman jahiliah.
Rasulullah saw tidak mau menyakiti umatnya seperti hadist cerita seorang laki-laki yang musafir dengan dipayungi. Kata orang-orang  bahwa dia puasa, maka sabda rasul saw
ليس من البر الصيام فى السفر                                      
"Bukan suatu kebaikan berpuasa diwaktu musafir".
Maksud hadist ini adalah: bahwa keadaan orang berpuasa itu telah menyusahkan perjalananya, hampir mau binasa gara-gara dia puasa. Tapi kalau puasanya tidak menyusahkan musafirnya maka tidak mengapa kalau dia mau berpuasa. Karena ketika rasulullah saw membuka kota Mekkah itu pada bulan ramadhan maka rasul puasa dan para sahabatpun berpuasa manakala sampai di Kudai dan para sahabat telah kesusahan menjalani puasa maka rasulullah saw mengambil wadah berisi air dan rasul minum dari atas ontanya supaya para sahabat melihat beliau berbuka
عن رفاعة بن رافع رضي الله عنه قال كنا نصلى وراء النبي صلى الله عليه وسلم فلما رفع رأسه من الركعة قال: سمع الله لمن حمده قال رجل وراءه: ربنا ولك الحمد حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه, فلما انصرف قال من المتكلم؟ قال أنا قال رأيت بضعة وثلاثين ملكا يبتدرونها أيهم يكتبها (رواه البخاري)     
Daripada Rifa’ah bin Rafi’I ra berkata: kami sembahyang bersama rasulullah saw dibelakangnya, manakala rasul mengangkat kepalanya dari rakaat itu beliau berkata:
   سمع الله لمن حمدهmaka ada seorang laki-laki dibelakang menjawab :
 ربنا ولك الحمد حمدا كثيرا طيبا مباركا فيهmanakala selesai sembahyang rasul bertanya: siapa yangmembaca do’a tadi? Laki-laki itu menjawab: aku ya rasul. Maka rasulullah saw bersabda: aku lihat lebih dari 30 malaikat bergegas mencatat pahalanya tadi.
قال الحافظ ابن حجر فى فتح البارى فى باب ربنا ولك الحمد: يستدل به على جواز احداث ذكر فى الصلاة غير مأثور إذا كان غير مخالف للمأثور وعلى جواز رفع الصوت بالذكر مالم يشوش
Imam ibnu Hajar mengatakan dalam kitab Fathul Bari pada bab(ربنا ولك الحمد) : hadist ini menunjukkan atas bolehnya membuat zikir baru dalam sembahyang yang tidak berasal dari nabi selama zikir itu tidak menyalahi zikir yang ma’sur dan boleh pula mengangkat suara dalam berzikir selama tidak mengganggu orang lain.
Pandanglah bagaimana rasul menyikapi sahabat yang menambah zikir yang tidak dari beliau dengan bijaksana rasulullah saw tidak memandang dengan kesinisan dan sebelah mata dengan sahabat yang membuat-buat zikir baru ,padahal beliau tidak ada mengajarkannya bahkn beliau memberikan kabar gembira pada orang yang memperbuatnya dengan berebutnya para malaikat untuk mencatat amalnya. Karena sahabat itu memang meletakkan do’a pada tempatnya yaitu dalam sembahyang itu maqbul berdo’a apa saja.
Demikian beberapa contoh hadist-haadist yang menunjukkan inisiatif para sahabat yang disetujui oleh rasulullah saw dari segi ibadah maupun mengambil berkat dari diri rasul maupun orang-orang saleh padahal rasulullah tidak mengajarkan sebelumnya. Seperti menambah doa dalam sembahyang, mengeraskan suara dengan zikir, dengan macam-macam lagi amalan para sahabat dulu yang timbul dari ijtihad nereka masing-masing selama itu tidak bertentangan dengan nas al-qur’an dan hadist dan tidak ada mudharat dalam diri yang melakukannya dan masih ternaungi dengan dalil-dalil syari’at. Sebagaimana dalam kaidah:
ان ماكان من الخير ومن جنس المشروع اذا لم يصادم نصا ولم يترتب عليه مفسدة ولم يكن منافيا او مخالفا لهد ية صلى الله عليه وسلم فهو مقبول                          
Bahwa sesuatu dari kebaikan dan dari pada jenis yang disuruh apabila tidak bertentangan dan tidak menimbulkan kerusakan(maksiat) dan tidak berlawanan atau menyalahi dari petunjuk rasulullah saw maka itu diterima(boleh diamalkan).
 Meskipun sekarang ini tidak ada lagi pengikraran dari rasul dengan apa yang kita lakukan tapi sesuai saja dengan kaidah ulama tadi. Maka boleh kita amalkan dengan syarat -syarat yang termasuk dalam kaidah itu.
والبدعة لها معنيان احدهما لغوى عام وهو المحدث مطلقا سواء كان من العادات أو العبادات والثانى شرعي خاص وهو الزيادة فى الدين أو النقصان منه بعد الصحابة بغير إذن الشارع لا قولا ولا فعلا ولاصريحا ولاإشارة وعمومها فى الحديث بحسب معنا هاالشرعي فلا يتناول العادات أصلا بل يقتصر على بعض الإعتقادات وبعض صور العبادات بدليل قوله صلى الله عليه وسلم أنتم اعلم بأمر دنيا كم وأيضا مافعله الصحابة أو التابعون أو تابعو تابعيهم وما فعل فى زما نهم من غيرنكير منهم لا يندرج تحت مضمون كلمة البدعة التى حذرنا الشارع منها                                        
 فمن الخطاءالواضح أن نجعل كل أمر لم يكن فى زمان الصحابة والتابعين وتابعيهم بدعة مذمومة وإن لم يقم دليل على قبحه تمسكا بعموم قوله صلى الله عليه وسلم إياكم ومحدثات الأمور بل لا بد أن ننظر الى المحد ث الذى وجد فى عهدهم(تعليق بستان العارفين)                                                           
Dan bid’ah itu ada 2 ma’nanya salah satunya secara lughat(bahasa)yang umum yaitu setiap perkara baru dari pada adat dan kebiasaan atau dalam segi ibadah, dan yang kedua secara syari’at khas yaitu menambah-nambah perkara dalam agama atau menguranginya sesudah jaman sahabat dengan tidak ada ijin dari sohibus syari’ yaitu nabi saw dalam bentuk perkataan, dan perbuatan dan penjelasan dan isyarat. Dan keumuman hadist pada kalimat
 كل بدعة ضلا لة yaitu tiap-tiap perkara baru itu adalah bid’ah yang menyesatkan, itu dipandang dari segi syari’at maka tidak termasuk/ mencakupi masalah adat kebiasaan bahkan hadist itu khusus disebagian dari masalah I’tikad –I’tikad dari sebagian masalah bid’ah saja dengan dalil hadistأنتم أعلم بأمر دنياكم  yaitu kalian lebih mengetahui perkara-perkara duniamu. Dan begitu pula sesuatu perbuatan para sahabat atau para tabi’in atau orang-orang yang sesudah mereka dan apa saja yang terjadi dizaman mereka dan tidak ada pengingkaran atas itu maka tidak termasukdibawah himpunan kalimat “bid’ah” yang diwanti-wanti oleh rasulullah saw supaya kita berhati-hati padanya.
Dan sebagian dari kesalahan yang patal yaitu menjadikan tiap-tiap perkara yang tidak ada dizaman sahabat dan tabi’in dan orang yang mengikut mereka sebaga bid’ah yang tercela sekalipun tidak ada dalil yang menyatakan keburukannya, karena berpegang dengan umumnya hadist rasulullah saw  اياكم ومحدثات الامر  (berhati-hati dengan perkara-perkara baru) tetapi kita harus memandang kepada perkara-perkara baru yang terjadi dimasa mereka.
Maka apabila ada yang ingkar kepadanya dari mereka seperti khutbah sebelum shalat dua hari raya sebagaimana memperbuat oleh khalifah Marwan bin Hakam dan telah mengingkarinya Abu Said Alhudhri ra, dan mengangkat tangan ketika berdo’a dalam khutbah jum’at sebagaimana memperbuat oleh Bisr bin Marwan dan telah mengingkari saidina Umarah bin Ruaibah ra, maka itu adalah bid’ah yang tecela. Atau tidak ada yang mengingkari dari kalangan mereka serta mereka melihat kejadian itu bahkan mereka ridho dan menyepakati saja seperti azan pertama pada saat jum’at dan azan dan qamat lagi pada jamaah yang kedua,dan berbilang-bilangnya solat dua hari raya pada satu kota,dan berkumpulnya pada malam bulan ramadhan untuk solat tarawih 20 rakaat atau seumpamanya.maka ini tidak termasuk dalam artian bid’ah yang tercela pada agama.dan apabila mutlak kata bid’ah itu secara umum maka harus dikaitkan dengan sebutan bid’ah hasanah.
            Walhasil bid’ah adalah suatu perkara baru yang tidak terjadi pada masa sohabat dan tabiin atau atbaut tabiin dan tidak ada dasar yang empat yaitu al qur’an dan hadist dan ijma’ dan qias maka apabila ada dasar itu dijaman mereka yang penuh barkah itu atau ada salah satunya maka tidaklah perkara itu disebut bid’ah.
Adapun kejadian-kejadian sesudah masa yang tiga itu maka harus ditimbang dengan dalil-dalil syar’I apabila kejadian itu ada bandingnya atau persamaannya dengan kejadian dimasa mereka itu atau terlindungi dengan qaidah syara’ maka tidaklah dinamakan bid’ah
            Tetapi jikalau perkara baru itu tidak ada dasar yang 4 tadi atau salah satunya dan tidak ada qaidah yang menaunginya maka dia termasuk dalam bid’ah yang sesat sekalipun orang yang mengerjakannya orang yang terhormat atau orang yang sudah masyhur dengan kealiman ilmunya,karena perbuatan seorang ulama maupun masyaikh apalagi orang biasa tidak akan bisa menjadi dalil maupun hujjah yang bisa menunjukkan bahwa perbuatannya sudah benar dalam agama.
Demikianlah yang disebutkan oleh syekh Al Laknawi dalam kitab Iqamatul Hujjah.
            Kebanyakan diantara ulama kita kalau sudah menjadi panutan dan idola umat semuanya dan keputusan final sudah ada digenggamannya dari atasan sampai orang bawahan sungkem padanya maka segala perbuatan baik dan buruknya akan menjadi hujjah bagi ummat dibelakangnya .
 walaupun kalau dipandang dari syariat sudah mulai keluar dari jalannya yang lurus dan dia pun tidak mau menerangkan bahwa yang dia kerjakan adalah salah atau makruh atau haram hukumnya, karena takut namanya akan gugur dimata ummat atau takut dikatakan kurang ilmunya. Padahal lebih baik kita ruju’ atau kembali meralat perbuatan atau fatwa kita yang salah didunia ini daripada kita akan mempertanggung jawabkan  perbuatan kita dihadapan Allah SAW dan rasulullah saw dan segala makhluk dihari qiamat nanti, dan kita akan menanggung dosa-dosa orang yang mengikut jalan kita yang tersalah tadi sampai hari qiamat nanti.
 Karena ketika mereka ditanya oleh Allah SWT :kengapa  kalian melakukan hal itu padahal itu Aku larang.
Mereka akan menjawab :karena syekh pulan juga melakukannya.
Apa jawaban kita nanti pada Allah swt ketika kita ditanya tentang itu?? Mereka Cuma ittiba’(mengikut)kita saja karena mereka menyangka bahwa semua perbuatan kita pasti benar dan tak mungkin salah sebab kita orang alim dan paling mengerti hokum
             Oleh karena itu sepantasnya bagi seorang alim harus berhati-hati melakukan sesuatu perbuatan apalagi ditengah majlis yang dihadiri oleh ribuan orang karena sebagian mereka ada yang tidak faham banyak tentang agama takut kalau yang kita lakukan itu dinilainya baik semuanya.
            Menurut riwayat dalam majelis Imam Ahmad bin Hambal yang hadir 4000 orang tapi yang menulis Cuma 1000 orang dan 3000 orang Cuma datang mau melihat bagaimana akhlak dan sifat imam Ahmad bin Hambal dari jarak dekat saja karena ulama adalah pewaris para nabi tentulah orang yang mewaris itu tidak jauh beda dengan orang yang diwarisi.
             Jadi orang akan ingat nabi kalau sudah melihat dia, karena dalam kehidupannya terekam sifat-sifat terpuji yang dimiliki oleh nabi-nabi. Mereka tidak perlu baca kitab hadist maupun sejarah lagi, karena kalau ingin tahu bagaimana akhlak, pakaian, gerak-gerik nabi maka lihatlah dan datanglah pada ulama atau syekh pulan maka kita akan melihat dalam dirinya pantulan sifat-sifat nabi yang terpuji dan bisa kita ikuti.
Seperti yang terjadi pada majlis Abdullah bin mas,ud dan Umar bin Abdul azis maka berkata orang yang hadir disana :sungguh majlisnya imam Abdullah bin mas,ud lebih berkesan dalam diriku daripada beramal satu tahun , sungguh aku ingin membeli majlisnya imam Ubaidullah bin bhn Abdullah satu malam dengan seribu dinar  daripada baitul mal.
Ja,far bin sulaiman berkata:apabila didalam hatiku malas dan lemah maka aku segera berangkat kepada majlis imam Muhammad bin wasik untuk melihat wajahnya maka seketika itu jua bergetar hatiku ingat Allah swt.
Rasulullah saw bersabda :

قد سئل النبي صلى الله عليه وسلم : أي جلسائنا خير ؟ فقال: من ذكر كم بالله رؤيته وزاد في علمكم منطقه وذكركم بالأخرة عمله .رواه البيهقي
Artinya: nabi saw ditanya orang :siapakah teman sekedudukan yang baik ? maka bersabda: orang yang mengingatkan kamu dengan Allah apabila engkau melihatnya , dan bertambah ilmu kamu dengan pembicaraannya dan mengingatkan kamu kepada akhirat dengan amal perbuatannya. 
            Hidupkanlah sunnah pada diri kita serta seluruh aktifitas dalam kehidupan sehari-hari agar apabila orang lain melihat kita maka terpikirlah dalam pikiran mereka bahwa beginilah islam itu sesungguhnya. Dan dengan mengamalkan sunnah maka berarti kita telah menyebarluaskan sunnah-sunnah rasul pada ummatnya sehingga rasul akan bangga pada kita sebagai penerus beliau yang setia tanpa memperdulikan perkataan dan cacian orang yang tidak suka pada kita. Begtulah para sahabat nabi dahulu yang mana mereka tidak memperdulikan kata-kata orang yang pentiang sunnah rasul tertanam pada diri mereka.
 Seperti kata saidina Ali ra.

لم اكن أدع سنة رسول صلى الله عليه وسلم لقول أحد من الناس وقال: إني لست بنبي ولا يوحى إلي  ولكن أعمل بكتاب الله تعالى وسنة نبيه ما استطعت                        
            Artinya: aku tidak akn meninggalkan sunah rasulullah saw karena perkataan salah seorang manusia dan beliau berkata bukanlah aku seorang nabi dan wahyu tidak turun kepadaku tapi aku Cuma beramal sesuai dengan kitab Allah SWT dan sunnah nabi semampuku.
وقال سيدنا أبو بكررضى الله عنه: لست تا ركا شيئا كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعمل به إلا عملت به إنى أخشى ان تركت شيئا من أمره أن أزيغ
            Artinya dan berkata saidina  abu bakar ra: aku tidak pernah meninggalkan sesuatu yang rasul amalkan kecuali aku amalkan itu karena aku takut jikalau aku tinggalkan perkara itu aku akan tersesat.
            Kalau bukan kita sebagai umat rasul yang mengamalkan sunnahnya siapa lagi yang kita harap?? Apakah kita berharap pada non muslim yang mengamalkannya? Tentulah kita kita ini yang berhak mengamalkan segala sunnah rasul yang beliau tebarkan lebih dari 1400 tahun yang lalu.                
 اللهم ارزقنا متباعة النبى صلى الله عليه وسلم أولا وأخرا وظا هرا وبا طنا يا أرحم الراحمين

 قال ابن حجر في الفتاوى الحد يثية :                                               
قال الشيخ عز الدين ابن عبد السلام رحمة الله تعالى: البدعة فعل مالم يعهد في عهد النبى صلى الله عليه و سلم ينقسم الى خمسة أحكام يعنى الوجوب والندب الخ وطريق معرفة ذلك أن تعرض البدعة على قواعد الشرع فأى حكم دخلت فيه فهي منه ، فمن البدعة الواجبة تعلم النحو الذي يفهم به القران والسنة ، ومن البدع المحرمة مذهب نحو القدرية ، ومن البدع المندوبة احداث نحو المدارس والإجتماع لصلاة التراويح،  ومن البدع المباحة المصافحة بعد الصلاة ، ومن البدع المكروهة زخرفة المساجد والمصاحف اى بغير الذهب وإلا فهي محرمة ، وفي الحديث كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار وهو محمول على المحرمة لا غير ، وحيث حصل في ذلك الإجتماع لذكر أو صلاة التراويح أو نحوها محرم وجب على كل ذى قدر النهى عن ذلك وعلى غيره الإمتناع من حضور ذلك وإلا صار شريكا لهم ومن ثم صرح الشيخان بأن من المعاصى الجلوس مع الفساق إيناسا لهم
فتاوى الحديثية ص 109
Al imam ibnu hajar dalam kitab fatawa hadisiah mengutip perkataan syekh izzuddin bin abdus salam beliau berkata:Bid,ah itu suatu perbuatan yang tidak ada dilakukan dijaman nabi saw dan dia terbagi dalam lima hukum yaitu wajib,haram,sunah,mubah,makruh. Dan cara m engenal semua itu engkau timbang bid,ah itu dengan kaidah syariat dari segi mana dia masuk maka disitulah ada hukumnya.
*      Maka setengah dari bid,ah yang wajib yaitu belajar ilmu nahwu untuk memahami al qur,an dan sunah
*      setengah dari bid,ah yang haram seperti mazhab qadariah
*      setengah dari bid,ah yang sunat seperti membikin sekolah-sekolah dan berkumpul untuk shalat taraweh
*      setengah dari bid’ah yang mubah seperti bersalaman waktu sesudah shalat
*      setengah dari bid’ah makruh yaitu menghiasi mesjid-mesjid dan Al-qur’an dengan selain emas tapi kalau menghiasinya dengan emas maka haram hukumnya.
Adapun hadist
كل بدعة ضلالة وكل ضلالة فى النار                   
Artinya: tiap-tiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu masuk neraka
Maka hadist ini mahmul(boleh jadi) atas perkara-perkara yang haram saja, sehingga hasillah apabila dalam perkumpulan zikir atau shalat taraweh atau seumpamanya ada perkara-perkara haram maka wajib atas orang yang mampu(punya kekuatan) untuk mencegahnya, dan  melarang untuk menghadiri acara itu kalau itu tidak maka dia dianggap bersekongkul maksiat.
 Oleh karena itu imam Rafi’I dan Nawawi menjelaskan bahwa setengah dari maksiat juga yaitu duduk bersama orang-orang fasik karena merestui mereka. Demikian ibnu Hajar menukil perkataan syekh Izzuddin bin Abdussalam dalam kitabnya Fatawa Hadisiah).
Sungguh islam tidak membatasi seseorang untuk beramal dan mengeruk pahala yang banyak dalam segi ibadah sendirian maupun secara jama’ah bahkan dalam menunaikan syahwat nalurinyapun mendapatkan pahala disisi Allah SWT. Para sahabat bertanya:
يا نبي الله أياتى أحدنا شهدته فيكون له أجر؟ قال أرأيتم لو وضعها فى الحرام أليس يكون عليه وزر؟ قالوا بلى قال: فكذالك لو وضعها فى الحلال كان له أجر

            Artinya: wahai nabiyullah apakah berpahala bila kami memenuhi syahwat kami(pada istri kami)?Maka rasulpun menjawab: bagaimana pendapat kalian seandainya syaheat kalian itu kalian letakkan pada yang haram, apakah kalian dapat dosa? Mereka menjawab: ya. Lalu rasul bersabda: demikian juga jikalau kalian letakkan pada yang halal maka akan dapat pahala juga.
Maksud hadist ini karena niatnya itu menjunjung perintah Allah SWT maka dia menahan dirinya dan istrinya dari yang haram dan untuk berusaha mendapatkan anak yang shaleh yang beriman kepada Allah SWT maka Allah SWT nilai itu sebagai ibadah. Ini ibadah perorangan, bagaimana kalau itu dikerjakan secara berjama’ah? Maka dari sini kita tahu bahwa macam-macam propesi dan industri dan ilmu-ilmu kedokteran serta bangunan ataupun seumpamanya dia adalah tujuan   (مقاصد)   syari’at dan hasil semua itu adalah dari kewajiban seperti ilmu agama untuk melimpahkan manfa;atnya  bagi umat  manusia, disitulah tingginya kemuliaan orang islam dan ketinggian agama islam
إذا فكل من المعلم والطبيب والمهندس والصانع وحتى التاجر الصدوق كل موقعه مجاهد فى سبيل الله                                                 
            “Maka setiap profesi sebagai pengajar, dokter, dan insinyur serta sebagai pegawai industri termasuk para pedagang yang jujur semuanya pada tempatnya itu juga termasuk para mujaahid dijalan Allah SWT.”
            Kiaskanlah pada yang lain yang manfaatnya untuk kaum muslimin sampai wartawan yang mencari berita dan kejadian baru untuk dipajangkan dihadapan manusia supaya mereka mengambil iktibar terhadap kejadian itu maka akan bernilai positif apabila niatnya itu baik. Dalam hadist nabi bersabda:
أفضل الشهداء حمزة ثم رجل قال كلمة حق عند سلطان جائر فقتله               
            “Sepaling paling afdhal syahid adalah Hamzah kamudian seseorang yang berkata dengan kalimat yang benar disisi pemerintah yang zhalim maka iapun dibunuh”
            Demikianlah para wartawan yang jujur dan baik niatnya mengatakan yang hak didepan pemerintah terkadang akibatnya bisa membinasakan dirinya sendiri seperti dipenjara, diculik bahkan dibunuh. Maka dia termasuk syahid dijalan Allah SW.( demikian diambil dari kitab Assunnah Wal Bid’ah karangan syekh Abdullah Mahfuz Alhaddad).
فكل اعمال المسلم تعتبر عبادة لانها تشريع ممن له العبادة فكما يتعبد له بالصلاة والصوم والحج والزكاة يتعبد له بالسعى والكسب والمعاملة والغرس والزرع وبكل علم أو عمل ينفع الناس أو يعوى به الإسلام وأهله فالمسلم يعبد ربه فى مصنعه كما يعبده فى المسجد ويعبده وهو يدرس الطب يعبده وهو يدرس القران كلامه تعالى ويعبده وهو يغرس ويزرع أو يكد لكسب رزقه ورزق من يعول كما يعبده والهندسة كما وهو يحمل البندقية للجهاد فى سبيله والذود عن حياض أهل الإسلام وتحرير المسجد الأقصى                                             
            “Maka setiap perbuatan orang muslim dipandang ibadah karena dia adalah ketentuan dari Allah SWT. Maka sebagaimana seseorang itu beribadah dengan shalat, puasa dan haji  serta zakat maka dipandang ibadah pula orang yang berusaha, bekerja, menanam pohon, menanam benih, dan setiap ilmu serta perbuatan yang manfa’atnya untuk manusia atau untuk menguatkan islam dan penganutnya maka orang muslim yang beribadah pada tuhannya ditempat kerjanya sama dengan yang beribadah dimmesjid, dan orang muslim yang beribadah diwaktu belajar kedokteran dan belajar menghitung sama dengan orang yang belajar Al-qur’an kalamullah. Dan orang muslim yang menanam disawah atau bekerja keras untuk memperoleh rezkinya dan rezki orang yang ia tanggung sama dengan orang yang memikul senjata untuk berjihad di jalan Allah SWT dan membela lembah negri orang islam dan memerdekakan mesjid Aqsha.
فلعمل فى كل هذه المجالات جهاد لأنه وسيلة من وسائل إعلاء كلمة الله             
            “Maka perbuatan pada semua bidang ini adalah jihad(perjuangan) karena dia menjadi salah satu perantara dari berbagai macam perantara meninggikan kalimatullah.
روى الترمذى بإسناد حسن عن أبى هريرة رضى الله عنه قال: مر رجل من أصحاب النبى صلى الله عليه وسلم بشعب فيه عين من ماء عذبة فقال لو اعتزلت الناس فأقمت فى هذه الشعب ولن افعل حتى إستاذن رسول الله فذكر ذلك لرسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: لا تفعل فإن مقام أحدكم فى سبيل الله أفضل من صلاته فى بيته سبعين عاما إلا تحبون أن يغفر الله لكم ويدخلكم الجنة؟        
            Riwayat dari imam Tirmizdi dengan sanad yang hasan  dari Abu Hurairah ra berkata: seorang sahabat nabi saw sedang melewati satu perkampungan yang ada mata airnya yang tawar maka dia berkata: andai aku meninggalkan(menjauhi) manusia dan aku bermukim disini tapi aku tidak mengerjakannya sampai aku minta izin pada rasulullah saw, maka dia sebutkan niatnya itu pada rasulullah saw dan beliau bersabda: jangan engkau lakukan karena tempat salah seorang kamu dijalan Allah SWT lebih afdhal daripada shalat dirumah 70 tahun. Apakah engkau senang bahwa Allah SWT mengampuni dosa kalian dan Allah SWT masukkan kedalam syurga
هذه مجرد لمحات لمعرفة استيعاب الإسلام لكل أعمال المسلم وأن كل أعماله داخل فى إطار العبادة سواء دنيويا أو أخرويا , ومن هنا قال العلماء لايجوز فى الإسلام فصل الدين عن الدولة ولا الشريعة عن العقيدة ولا فصل المعاملة عن العبادة لأن الإسلام كل لا يتجزأ ،  والذى فرض هذا ، ونظم هذا هو نفسه الذى فرض ذاك وقرره وأوجبه أو شرعه وأباحه أو صححه أو أبطله فالمسلم فى المسجد وخارجه   
            Ini adalah sekedar sekilas untuk mengetahui bahwa islam itu universal(menyeluruh) bagi tiap-tiap pekerja’an orang muslim dan tiap-tiap perbuatannya masuk ruang lingkup sama adalah masalah kedunia’an atau berbentuk perbuatan akhirat. Dari sini ulama berpendapat bahwa tidak boleh dalam islam memisahkan agama dengan Negara dan syari’at dengan aqidah dan tidak boleh memisahkan pergaulan sehari-hari dengan ibadah karena islam itu universal(menyeluruh) tidak terbagi-bagi. Dan zat yang menetapkan dan mengatur ini adalah juga zat yang menetapkan, mewajibkan atau mensyari’atkan serta membolehkan atau membenarkan atau membatalkan perkara itu(Allah). Jadi orang muslim yang didalam mesjid dan yang diluar mesjid maksudnya adalah yang dinamakan orang muslim itu bukan hanya yang beribadah dimesjid saja tapi juga yang bekerja diluar mesjid seperti dikantor, dipasar, disawah, dan disekolah, dll